INTERNET, RUANG SOSIAL DAN INFORMASI

ERA DIGITAL

Perkembangan teknologi telah membawa kita pada sebuah era baru, era komputer. Tak dapat dipungkiri jika komputer merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan manusia. Komputer dalam konteks disini dianggap sebagai sebuah hardware yang merupakan sebuah hasil dari teknologi komunikasi. Lalu apakah teknologi komunikasi itu dan apa perbedaannya dengan teknologi informasi?

Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam melihat apa teknologi komunikasi itu, pertama, teknologi komunikasi adalah alat. Kedua, teknologi komunikasi dilahirkan oleh sebuah struktur ekonomi, sosial, dan politik. Ketiga, teknologi komunikasi membawa nilai-nilai yang berasal dari struktur ekonomi, sosial dan politik tertentu. Keempat, teknologi komunikasi meningkatkan kemampuan indera manusia khususnya pendengaran dan pengelihatan[1]. Keempat aspek inilah yang menempatkan komputer (dengan jaringan) sebagai sebuah produk dari adanya teknologi komunikasi. Di lain sisi teknologi informasi merupakan adanya kemajuan di bidang bagaimana sebuah informasi diproses, diolah dan disebarkan secara luas dan cepat.

Bila teknologi komunikasi adalah alat yang menambah kemampuan orang berkomunikasi maka teknologi informasi adalah pengerjaan data oleh komputer dan telekomunikasi.[2]

Sistem pengolahan data dan penyebaran informasi yang terus berkembang pesat saat ini menjadikan internet sebagai sebuah sistem informasi (merangkap telekomunikasi) yang paling mutakhir dan paling populer dari semua sistem dan jaringan yang ada saat ini. Internet merupakan sebuah artefak kebudayaan hasil dari perkembangan teknologi dan keberadaan komputer. Sebagai sebuah artefak kebudayaan, keberadaan internet mampu membentuk suatu budaya tersendiri bagi beberapa golongan masyarakat tertentu. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya Warnet (Warung Internet) yang berdiri di Jogjakarta dan jumlah orang yang mengakses perharinya. Bisa kita bayangkan betapa kehadiran Warnet ini sudah membuat sebuah budaya baru dan merubah rutinitas harian seseorang. Internet sudah bukan lagi menjadi media kelas dua bagi mereka yang sengaja mencari informasi maupun sekedar hiburan.

Internet sendiri mulai diperkenalkan pada awal tahun 1980an di Amerika Serikat, namun kemampuan jaringan saat itu masih sangat terbatas sekali. Pertumbuhan internet mulai dilirik oleh dunia disaat sistem ini diimplementasikan di Eropa di awal tahun 1990an. Pada dekade 90an inilah perkembangan internet mencapai taraf yang luar biasa, dan memuncak pada tahun 1996 – 1997[3]. Hal inilah yang menjadi titik awal hadirnya teknologi internet di Indonesia.

Sebelum lebih jauh melihat pada internet dalam konteks ruang publik, maka kita harus mengetahui bagaimana internet bekerja. Internet dilahirkan dari adanya teknologi komputer dan merupakan teknologi media digital. Lalu apakah media digital itu?[4]

Digital media usually refers to electronic media that work on digital codes. Today, computing is primarily based on the binary numeral system. In this case digital refers to the discrete states of “0” and “1” for representing arbitrary data. Computers are machines that (usually) interpret binary digital data as information and thus represent the predominating class of digital information processing machines. Digital media like digital audio, digital video and other digital “content” can be created, referred to and distributed via digital information processing machines. Digital media represents a profound change from previous (analog) media”.

Dengan adanya perkembangan teknologi, media konvensional mendapat pelengkap, yaitu media digital. Disebut media digital karena media tersebut berbasis pada sistem numerik dan kode-kode digital. Komputer merupakan bagian terpenting dari media digital. Komputer berjalan berdasarkan angka-angka dan kode-kode numerik yang terprogram. Apa yang membuat orang saat ini mulai berpaling mencari solusi informasi dari media konvensional menuju kepada media digital, dalam kasus ini internet, adalah kecepatan dan beragamnya arus informasi yang dimungkinkan untuk diperoleh.

Sebuah keunikan internet adalah adanya interaktifitas penggunanya. Hal inilah yang menjadikan internet sebagai sebuah media interaktif yang menghubungkan sebuah sistem komunikasi antar perorangan maupun antara manusia dengan komputer (media) itu sendiri. Hal ini menjadikannya sebagai sebuah media yang “unik” dan membedakannya dengan media konvensional apapun. Lebih jauh mengenai media interaktif[5]

Interactive media refers to media of communication that allow for active participation by the recipient, hence interactivity. Traditional information theory would describe interactive media as those media that establish two-way communication. In media theory, interactive media are discussed along their cultural implications. The field of Human Computer Interaction deals with aspects of interactivity and design of in digital media. Other areas that deal with interactive media are new media art, interactive advertising and video game production”.

Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa media interaktif didefinisikan sebagai media yang memungkinkannya adanya partisipasi dari audience-nya, atau adanya interaktifitas. Terlepas dari teori-teori terdahulu dimana media interaktif tercipta hanya dari proses komunikasi dua arah, maka teori definisi diatas menyebutkan bahwa Human Computer Interaction sudah bisa diklasifikasikan adanya media interaktif.

INTERNET DAN RUANG PUBLIK.

Ruang Publik

Internet Connection dan WiFi (wireless fiedelity) hampir merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi ditiap public sphere di Yogyakarta. Universitas, Mall, dan Café merupakan beberapa tempat yang tidak dapat berkata tidak pada teknologi internet. Belum terhitung banyaknya ISP (Internet Service Provider) yang melayani jasa private dan perorangan akan internet.

Disadari atau tidak, hadirnya internet yang semakin mudah diakses di Indonesia (khususnya di Yogyakarta) membawa sebuah booming atau dapat saya sebut dengan kata euphoria terhadap hadirnya teknologi ini. Hampir semua lapisan masyarakat, yang mengetahui dan mampu tentunya, menjadikan internet sebagai sebuah sarana utama mencari sumber informasi dan sarana berkomunikasi, bahkan beberapa orang mungkin sudah tidak dapat melepaskan diri dari internet.

Internet mampu mengubah sebuah pola komunikasi tradisional menjadi sebuah pola komunikasi yang benar-benar baru dan moderen, dan menciptakan sebuah budaya baru dalam masyarakat. Kebanyakan orang mungkin merasa perlu menyebarkan informasi dengan posting blog di internet ataupun hanya perlu menjadi “gaul” dengan memuat biodata pada domain tertentu. Keadaan yang seperti ini saya masukkan sebagai adanya sebuah budaya baru yang merubah pola hidup mereka dalam realitas bermasyarakat. Budaya seperti ini sering disebut sebagai Popular Culture[6]:

Popular Culture, or pop culture, consists of the cultural elements that prevail (at least numerically) in any given society, mainly using the more popular media, in that society’s vernacular language and/or an established lingua franca. It results from the daily interactions, needs and desires and cultural ‘moments’ that make up the everyday lives of the mainstream. It can include any number of practices, including those pertaining to cooking, clothing, mass media and the many facets of entertainment such as sports and literature”.

Kembali pada topik yang utama, dimana Internet juga mempunyai fungsi sebagai sebuah ruang publik tentu saja memungkinkan setiap individu dapat mengekspresikan apapun yang dia inginkan pada ruang-ruang yang telah tersedia. Sulitnya hukum menjangkau ranah “maya” dan virtual seperti ini turut mendorong seseorang untuk lebih bebas mengemukakan pendapatnya dan mengekspresikan pikirannya di Internet.

Ruang publik, seperti yang di ungkapkan oleh seorang filusuf Jerman, Habermas, diartikan sebagai[7]:

A domain of our social life where such a thing as public opinion can be formed where citizens deals with matters of general interest without being subject to coercion to express and publicize their views”.

Sebuah ruang publik dapat juga tercipta pada dunia maya atau virtual, dan akan menjadi ruang sosial manakala hubungan komunikasi antar individunya sudah sampai pada taraf yang konsisten dan stabil. Ruang sosial dapat terbentuk manakala terdapat “ruangan” yang representatif untuk dapat saling melakukan komunikasi antar sesama individu yang ada. Proses komunikasi inilah yang pada akhirnya membentuk sebuah arus informasi dan menciptakan sebuah “masyarakat maya” yang saling terkait.

Opini, pendapat, tanggapan dan kontribusi komunikasi apapun yang dihasilkan atau dikeluarkan tiap-tiap individu, dalam betuk posting, memberikan pengaruh yang kuat dalam pembentukan ruang publik di dunia maya. Banyak sekali situs internet di dunia maya yang menyediakan fasilitas yang representatif sehingga dapat digunakan sebagai sebuah ruang sosial yang lebih lanjut. Sering seseorang yang sudah menjadi bagian dalam forum maupun komunitas tertentu lantas merasa mempunyai eksistensi dan kehidupan sendiri dalam realitas maya, sehingga tingkat kehidupan sosialnya dalam dunia maya seakan merubah kehidupan realitanya dan budayanya.

Seringkali bahasan yang terjadi dalam ruang publik tersebut membawa pengaruh pada kehidupan sosial secara realita, atau justru merupakan representasi mengenai apa yang sedang terjadi dalam dunia nyata dan menjadi sebuah wacana untuk dibicarakan bersama. Pada prakteknya ruang publik di dunia maya tidak hanya terbatas pada konsep situs social network saja akan tetapi juga pada konsep-konsep lain, misalnya pada online gaming atau game online dan chatting.

Friendster, Multiply, Facebook dan My Space.

Bila kita melihat kebelakang, kira-kira pada tahun 2004 (di Indonesia), ada sebuah situs yang sangat revolusioner dan sangat “menggelitik” rasa penasaran banyak orang pada saat itu, termasuk saya tentunya. Friendster (friendster.com) merupakan salah satu situs yang menjadi pioneer dalam konsep sebuah situs social network atau jaringan sosial dengan pola “pertemanan” atau relationship” dunia maya. Pada prakteknya friendster memberikan sebuah ruang komunikasi publik 2 arah tak langsung dan memberikan ruang pendapat yang berupa kolom “bulletin” dan sebuah instant postshoutout” yang bisa langsung dibaca oleh sesama anggota.

Friendster is an Internet social network service. The Friendster site was founded in Mountain View, California, United States by Jonathan Abrams in March 2002 and is privately owned. Friendster is based on the Circle of Friends and Web of Friends techniques for networking individuals in virtual communities and demonstrates the small world phenomenon”.

It currently has more than 70 million members worldwide and is mostly used in Asia [8].

Dalam kasus Friendster sedikit terjadi sebuah kebebasan berpendapat walaupun hanya terbatas sesama anggota member. Pada awal berdirinya, Friendster belum dapat mengakomodir semua ekspresi pemikiran seseorang yang dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya tulisan dan artikel bahkan friendster merupakan sebuah jaringan sosial yang bersifat private. Seiring persaingan dan perkembangan kebutuhan seseorang, Friendster meningkatkan layanannya dengan melengkapi dirinya dengan fasilitas blog[9]. Dalam perkembangannya, Friendster memungkinkan seseorang dapat menulis jauh lebih kompleks dan jauh lebih lengkap melalui fasilitas blog yang disediakan.

Friendster sebagai sebuah ruang publik berangsur-angsur tergusur popularitasnya dengan beberapa situs jaringan sosial baru lainnya yang jauh lebih interaktif dan lebih menarik (dalam hal fitur). Ada tiga buah contoh situs serupa yang lebih populer dari Friendster walaupun secara “umur” relatif bahkan jauh lebih muda[10]. Facebook (facebook.com) dan My Space (myspace.com), merupakan dua contoh dari banyak situs social network.

Worldwide Growth of Selected* Social Networking Sites

June 2007 vs. June 2006

Total Worldwide Home/Work Locations Among Internet Users Age 15+

Social Networking Site

Total Unique Visitors (000)

Jun-06

Jun-07

% Change

MySpace

66,401

114,147

72

Facebook

14,083

52,167

270

Hi5

18,098

28,174

56

Friendster

14,917

24,675

65

Orkut

13,588

24,120

78

Bebo

6,694

18,200

172

Tagged

1,506

13,167

774

Sumber: http://www.comscore.com

Multiply (multiply.com), Facebook (facebook.com) dan My Space (myspace.com) mempunyai tujuan yang lebih dari hanya sekedar “pertemanan” yang sederhana. My Space, Facebook dan Multiply benar-benar dapat mengakomodir tidak hanya karya tulis seseorang, melainkan karya seni berupa gambar sampai dengan video independen. Bila akan diteliti lebih lanjut, My Space, Facebook dan Multiply memberi banyak kontribusi pada industri budaya yang menarik dimana sesama pemusik atau film maker dapat saling bertukar referensi dan karyanya. Dalam beberapa kasus, mereka yang kreatif tak jarang melakukan bisnis di ke dua situs ini baik berupa karya seni dan sebagainya.

MySpace is a popular social networking website offering an interactive, user-submitted network of friends, personal profiles, blogs, groups, photos, music and videos for teenagers and adults internationally[11].

MySpace, seperti juga Multiply dan Facebook, mempunyai kelebihan sebagai sebuah social networking website dimana mereka mempunyai sifat yang jauh lebih interaktif dibanding Friendster. “Lahir” belakangan tidak menjadikan MySpace kalah populer dibanding Friendster, hal tersebut terlihat dari pertumbuhan jumlah pengguna dari tabel diatas. Selain itu MySpace memberikan tempat yang jauh lebih representatif bagi para individu yang mau mempromosikan karyanya ataupun mau mengemukakan pendapat di depan publik. MySpace juga mempunyai target user dengan demografi umur yang berbeda sehingga memungkinkan adanya proses komunikasi soaial yang lebih luas lagi.

Sebagai sebuah ruang publik, keempat situs diatas tadi paling tidak memberikan sebuah gambaran sederhana mengenai sebuah ruang publik dan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Walaupun sifatnya mungkin masih sangat personal dan sederhana, namun dalam hal ini Friendster, Multiply, Facebook dan My Space memberikan contoh adanya sebuah kebebasan berbicara dalam dunia maya sekalipun. Scope yang saya bicarakan disini memang belum bisa merepresentasikan kebebasan berpendapat yang sesungguhnya.

Blog dan Blogger

Penyampaian pendapat, informasi maupun expresi seseorang dapat dilakukan dalam berbagai macam bentuk. Tulisan ataupun karya tulis adalah yang paling populer. Saat ini banyak sekali situs-situs di internet yang menyediakan tempat buat para individu yang kreatif dan kritis sebut saja Blogspot (www.blogspot.com). Walaupun terkesan sederhana tetapi blog itu dapat bersifat macam-macam, seperti sebagai sebuah kumpulan tulisan / pikiran, dokumen dan foto, tulisan edukasi, dan hanya sekedar diary personal saja. Kreativitas seseorang dalam merangkai sebuah tulisan melalui blog akan menjadikan blog tersebut sebagai ruang publik yang menarik.

Blogger (penulis blog) dapat menyampaikan apapun yang ingin dia sampaikan melalui media yang berupa tulisan maupun audio visual, walaupun pada kenyataanya blog memang lebih sering difungsikan dalam bentuk gambar dan tulisan saja. Para blogger bisanya mengungkapkan pendapat, maupun menulis karya atau apapun berdasar refleksi kehidupan yang ada di sekitarnya. Semua hal yang menarik perhatiannya dan terkait dengan dirinya biasanya akan dicurahkan dalam tulisan-tulisan. Ada pula mereka yang menulis mengenai tanggapan terhadap isu-isu terkini. Blog dapat juga dimasukkan sebagai sebuah opini publik atas apa yang terjadi di sekitarnya yang bisa menyangkut aspek sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Seorang blogger mungkin bukan merupakan seorang politikus ataupun kritikus yang menulis akan fenomena dan isu-isu yang terjadi disekelilingnya. Namun seorang blogger dapat ikut ambil andil dalam merubah sebuah sistem (dalam konteks politik) yang ada disekelilingnya dari kreativitas setiap tulisan maupun postinganya. Namun begitu, kebanyakkan blogger hanya mengekspresikan apa yang dirasakan melalui tulisan dan gambar tanpa ada niat untuk mempengaruhi pembacanya. Tanggapan-tanggapan dari pembaca sangat mungkin terjadi sebagai sebuah aktifitas komunikasi dalam sebuah jaringan sosial maya. Hal inilah yang memungkinkan terjadinya sebuah raksi pada realitas atas apa yang tertulis dan tercurah dalam blog tersebut. Blog bukan lagi hanya dapat dianggap sebagai sebuah ruang ekspresi individu, namun berubah menjadi sebuah ruang komunikasi dan ruang publik yang lebih interaktif.

KASKUS.US

kaskus.us – “the largest indonesian community”

Di Indonesia terdapat beberapa ruang publik dalam bentuk forum yang banyak diakses oleh pengguna internet dalam mencari dan mengakses informasi, misalnya detik forum dan kaskus forum. http://www.kaskus.us merupakan sebuah sebuah situs forum yang merepresentasikan sebuah kehidupan sosial di dunia maya selayaknya yang ada pada dunia nyata. Kaskus berasal dari kata Kasak Kusuk yang mempunyai arti sebagai sebuah forum “ngobrol” atau “bergossip”.

Kaskus is an Indonesian internet forum site which is widely considered as the largest Indonesian online community. It ranks as the 7th most popular website in Indonesia and is one of two local sites in the top 10 (detik.com at 10th), positioning at 312th worldwide according to Alexa.com. It was established on November 6, 2000, by three Indonesian students (AD, RS, and BD) in the United States. As of January 31, 2008, Kaskus has more than 450,000 members[12].

Saat ini kaskus merupakan situs forum komunitas terbesar di Indonesia dan mempunyai member yang terbanyak juga dengan total member mencapai lebih dari enam ratus ribu orang (www.kaskus.us, 25 Agustus 2008). Kaskus berubah menjadi sebuah forum publik yang sangat besar dan menjadi sebuah ruang publik yang sangat representatif dalam menyalurkan aspirasi penggunanya. Komunikasi sosial yang terjadi antar anggota kaskus sering menjadikan kaskus sebagai ajang bertukar pikiran, informasi dan aspirasi.

Kaskus merupakan arena “the freedom of speech” dimana para member berhak untuk berbicara apa saja dalam konteks “room” atau “ruang” yang telah disediakan. Hampir segala aspek komunikasi dan ekonomi antar individu dapat dipenuhi di forum ini. Sebagai sebuah ruang publik, Kaskus dapat mengakomodir sebagian besar informasi yang dibutuhkan seseorang, hal ini bisa dilihat dari adanya berbagai macam “ruang” yang disediakan mulai dari ruang hobi (interest) sampai pada ruang debat dan politik. Anggota forum ini tidak terbatas pada skope lokal saja namun berasal dari berbagai penjuru dunia dan bisanya merupakan orang / warga Indonesia yang menetap maupun sekedar berada di luar negeri, sehingga arus tukar-menukar informasi juga berada pada level yang lebih luas dari hanya sekedar topik lokal.

“Akses media” yang dihadirkan oleh Kaskus kepada para penggunanya sering sekali membawa konflik dalam proses komunikasi antar penggunanya dan sering menimbulkan dampak / feedback pada lingkungan sekitarnya, walaupun memang hal ini merupakan dampak dari adanya kebebasan berpendapat dan berbicara. Sifat kaskus yang sangat terbuka tentunya mempunyai beberapa aspek positif dan negatif, secara positif informasi yang masuk adalah unlimited dan variatif namun secara negatif informasi yang masuk tidak dapat dipilah-pilah terlebih dahulu.

Kaskus mempunyai banyak ruang sosial, namun ada beberapa ruang yang sangat terkenal dalam forum ini sebut saja “debate club”[13] dan ruang “BB17”. Dalam Debate Club para kaskusers[14] disediakan ruang debat pendapat dalam forum ini yang mengutamakan moto the freedom of speech. Disini merupakan sebuah ruang yang merupakan representasi adanya kebebasan berpendapat dan berbicara dimana seseorang harus mempertahankan opini atas apa yang telah ia katakan. Ruang debat ini pada akhirnya sering menimbulkan masalah SARA yang dapat terjadi karena adanya keadaan yang terlalu bebas dalam berpendapat. Kasus lain lagi terjadi pada ruang “BB17” (buka bukaan 17 tahun keatas), yang merupakan sebuah ruang pornografi dimana semua kaskusers saling share dan diskusi seputar pornografi. Kebebasan yang berlebih menjadikan Kaskus sebagai salah satu akses pornografi lokal terbesar di Indonesia. Hal ini berhenti semenjak dikeluarkanya UU ITE oleh pemerintah sehingga menjadikan ruangan “BB17” ini akhirnya dihilangkan dan “dipindahkan” pada sebuah forum independent sendiri diluar Kaskus.

Informasi, Kaskus, dan Pemerintah

Kalau kita cermati satu tahun terakhir ini saja, terdapat beberapa fenomena menarik mengenai perkembangan dunia IT (information technology) di Indonesia. Hal ini terkait dengan beberapa situs yang berperan sebagai penyedia dan penyebar informasi yang “mengunggulkan” kebebasan berbicara dan berpendapat. Kebebasan yang disediakan di internet sering menjadi topik pembicaraan pada dunia nyata. Banyak contoh kasus mengenai hal ini yang sangat menjadi perhatian pemerintah.

Kaskus dan pornografi, merupakan salah satu pemicu di-block-nya beberapa situs luar negeri dan dalam negeri sebagai sebuah langkah preventif yang dilakukan oleh pemerintah dalam memerangi pornografi[15] dan hal ini memang mendapat respon yang berlebihan khususnya dari kalangan tertentu, misal pemerintah dan ormas Islam garis keras. Kaskus menjadi salah satu “tersangka” utama dalam proses penyebaran pornografi dan informasi yang dianggap sesat lainnya.

Sandra Dewi dan foto rekayasanya[16] merupakan kasus yang mengangkat pornografi di kaskus.us menjadi terkenal. Gambar yang akhirnya menyebar luas tersebut pada akhirnya ditanggapai oleh pemerintah, walaupun kita tahu bahwa kejahatan kriminal dunia maya (cybercrime) merupakan sebuah kejahatan yang susah diungkapkan. Pornografi merupakan salah satu pengaruh adanya konsep kebebasan di internet yang memang tidak dapat dihindari dan memang (mungkin) menari bagi sebagian orang sekaligus menjadi sebuah pemicu keresahan di masyarakat tertentu.

Pada akhirnya pemerintah juga memutuskan melakukan sebuah tindakan dengan menyusun dan disahkannya Undang undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE) oleh DPR tanggal 25 Maret 2008 oleh DPR. UU inilah yang pada akhirnya mengatur dan meregulasi semua bentuk informasi yang akan beredar di dunia maya di wilayah hukum Indonesia. Disini memang pemerintah terlihat serius menghadapi para netter yang keluar dari hukum yang berlaku[17].

Bila kita sering mengikuti berita, di awal Agustus 2008 yang lalu nama blackangel dan exc@libur menjadi salah satu orang yang populer dan menjadi topik hangat di beberapa acara berita. Mereka adalah kaskusers yang menyebarkan informasi terkait dengan jatuhnya Adam Air di perairan Majene Sulawesi Januari 2007[18]. Hal ini mencemaskan sekaligus menggugah masyarakat atas sebuah “jawaban” yang mungkin mereka cari berkenaan dengan kasus Adam Air yang seakan tidak pernah terjawab. Kaskus dan blackangel menjadi sorotan kepolisian pusat divisi cybercrime, dimana tedapat dakwaaan terhadap penyebar informasi tersebut. hal ini juga menjadi perhatian pengamat telekomunikasi dan informasi Roy Suryo, yang menjanjikan membantu polisi mengungkap penyebar informasi tersebut.

Kaskus menjadi sorotan karena penyebarluasan informasi dan rekaman mengenai Adam Air dapat di download melalui situs tersebut. Rekaman ini ternyata menyebar sangat luas di masyarakat dan mendapat reaksi yang “menarik” sehingga berubah menjadi sebuah informasi besar. Feedback yang terjadi ini merupakan sebuah representasi terhadap adanya pengaruh atas kebebasan informasi di internet, dalam kasus ini adalah pada penyebaran di forum kaskus.us.

Seringnya Kaskus menjadi sebuah sorotan dari pihak pemerintah menjadikan forum ini sebagai sebuah media representatif yang “suara”-nya ternyata mempengaruhi kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah. Kebebasan berpendapat dan berbicara yang diemban oleh Kaskus sering menjadikan hal tersebut sebagai “bumerang” di tengah-tengah kebijakan pemerintah yang mungkin masih terlalu otoriter terhadap opini publik. Kaskus juga merubah beberapa konsep ruangnya dalam usahanya menjaga kontinuitas hidup Kaskus dari “pembredelan” yang mungkin dilakukan oleh pemerintah bila memang terdapat pelanggaran terhap UU yang berlaku.

DEMOKRASI DELIBERATIF

Sebelum melangkah lebih lanjut, saya akan memberikan sedikit pengertian definisi mengenai apa itu deliberative democracy[19]:

Deliberative democracy, also sometimes called discursive democracy, is a term used by some political theorists, to refer to any system of political decisions based on some tradeoff of direct democracy and representative democracy that relies on citizen deliberation to make sound policy.

Demokrasi deliberatif sering dapat secara sederhana diartikan sebagai sebuah negosisasi dalam mencapai sebuah demokrasi dengan cara musyawarah mufakat. Hal ini dapat terjadi dalam sebuah keadaan yang sedang diliputi adanya conflict of interest. Secara makro conflict of interest yang terjadi adalah antara pemerintah, pasar dan publik karena ketiga elemen ini merupakan elemen utama dalam sebuah negara. Akan tetapi dalam skala yang lebih mikro dapat dilihat dari sudut pandang yang lain dan bisa terjadi dalam konteks lingkup kecil seperti sebuah perusahaan, instansi, dan sebagainya.

Dalam kaitannya dengan sebuah proses demokrasi deliberatif saya akan mencoba untuk “meminjam” unsur-unsur deliberative democracy yang diungkapkan oleh Joshua Cohen[20]:

1. An ongoing independent association with expected continuation.

2. The citizens in the democracy structure their institutions such that deliberation is the deciding factor in their creation and that they allow deliberation to continue.

3. A commitment to the respect of a pluralism of values and aims within the polity.

4. The participants in the democracy regard deliberative procedure as the source of legitimacy and as such they also prefer those causal histories of legitimation for each law be transparent, and easily traceable back to the deliberative process.

5. Each member and all members recognize and respect each others’ having deliberative capacity.

Cohen mungkin menempatkan unsur element tersebut dalam sebuah realitas yang “objektif” atau realitas nyata. Akan tetapi dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, hal tersebut sangat dimungkinkan untuk gergeser. Dapat dilihat dalam sebuah fenomena di Indonesia saat ini dimana beberapa pemerintah provinsi, pemerintah kota dan pemerintah kabupaten menggunakan website (situs internet) sebagai sebuah sarana komunikasi dan penyebaran informasi untuk masyarakat.

Seperti yang sudah sering saya sebutkan diatas bahwa social network dan berbagai forum yang hadir di dunia maya memberikan sebuah proses komunikasi dan tukar menukar informasi yang egaliter.

KONKLUSI

Internet sebagai ruang publik menyediakan media untuk para penggunanya agar bisa melakukan kontak sosial dan berkomunikasi antar sesama. Kontak sosial yang terjadi dalam ranah maya ini membawa sebuah perubahan atas medianya (internet) itu sendiri. Internet sebagai sebuah “ruang” maya pada akhirnya akan berubah sebagai sebuah media yang dapat mengakomodir kebutuhan seseorang untuk mencari informasi dan bertukar informasi.

Pada level yang lebih lanjut kehadiran internet sudah dapat dikatakan sebagai sebuah budaya baru yang banyak merubah aspek kehidupan manusia. Orang sudah tidak lagi bergantung hanya pada media konvensional, akan tetapi menjadikan internet sebagai salah satu sumber informasi yang utama. Beberapa situs bahkan memungkinkan adanya pertukaran informasi antar individu dalam bentuk forum diskusi maupun social network. Situs-situs inilah yang pada akirnya memberikan sebuah kebebasan kepada seseorang untuk berpendapat, berbicara dan berkreasi.

Kebebasan berpendapat dan berbicara di Internet nerupakan sebuah fenomena yang sedang berlangsung saat ini dan tidak dapat dihindari. Dampak yang dibawanya pun bermacam-macam sehingga filter media ini bukan lagi badan pemerintah namun dari tiap individu sendiri. Unlimited informasi yang didapat juga diikuti oleh unwanted informasi yang didapatkan dan hal ini tidak dapat dipisahkan. Walaupun begitu, pemerintah juga turut mengambil langkah preventif terhadap fenomena ini.

Pornografi dan isu diskriminasi mungkin merupakan alasan terkuat mengenai disusunnya UU ITE pada tahun 2008. Pemerintah, pernah melakukan sebuah langkah preventif, yang menurut saya, terlalu berlebihan dan hiperbolis mengenai keputusan yang memblokir situs-situs populer semacam youtube, rapidshare, multiply dan beberapa situs lain. Selain itu forum-forum dan blog pun mendapat dampak yang kurang menguntungkan. Hal ini saya samakan dengan “membakar lumbung hanya untuk membunuh tikus” dan terlalu berlebihan. Dalam hal ini apa yang dilakukan pemerintah banyak membunuh aspek-aspek di sebuah masyarakat, dimana orang tidak lagi bisa berekspresi dan menulis secara bebas di internet.

Hanya disebabkan oleh film “Fitna” yang tidak jelas asal usul dan tujuannya, pemerintah Indonesia seakan bertindak kalap sehingga menuai banyak protes baik dari para pengguna internet di Indonesia maupun di luar negeri. Saya merasa bahwa apa yang dilakukan pemerintah merupakan pembatasan mengenai hak seseorang untuk bisa berbicara secara bebas dan lepas dimana internet merupakan sedikit dari banyak media yang bisa digunakan dalam mengemukakan pendapat dengan bebas. Pemblokiran ini juga sangat mempengaruhi peredaran system informasi yang keluar masuk dan menurut saya hal ini tidak adil mengingat kita merupakan negara yang demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan mengemukakan pendapat.

Sangat diharapkan bahwa kedepannya UU ITE yang telah rampung disusun pemerintah dapat berfungsi selayaknya dan sesuai dengan konsep yang direncanakan dan bukan berarti melakukan perampasan terhadap hak berbicara dan mendapatkan informasi seseorang. UU ITE harus bisa membatasi tindakan mana yang melanggar hukum dan mana yang merupakan kebebasan berbicara dan dalam penggunaanya tidak lalu membatasi seseorang dalam berpendapat dan berbagi informasi, sehingga orang tidak lagi terkekang seperti yang terjadi pada pemerintahan orde baru.

Proses deliberatif demokrasi yang terjadi dalam kasus-kasus di Indonesia terkadang kurang seimbang dengan apa yang diharapkan. Akan tetapi sedikit hal memamng berhasil dalam pelaksanaannya. CONTO BLOKIR LEPAS DSB DSB.


DAFTAR PUSTAKA

Abrar, Ana Nadhya. Teknologi Komunikasi: Perspektif Ilmu Komunikasi. Lesfi 2003. Yogyakarta.

Cohen, J. Deliberative Democracy and Democratic Legitimacy, from Hamlin, A. and Pettit, P. (eds), The Good Polity. 1989. Oxford: Blackwell.

Strinati, Dominic. Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (Terjemahan). Bentang Budaya. 2003. Yogyakarta.

Habermas, Juergen. The Public Sphere. Blackwell Publishers, 1997, Oxford.

Bessette, Joseph. Deliberative Democracy: The Majority Principle in Republican Government, in How Democractic is the Constitution? AEI Press. 1980. Washington, D.C.

Krug, Gary. Communication, Technology and Cultural Change. SAGE. 2005. London.

Preston, Paschal. Reshaping Communications. SAGE. 2001. London.

Turkle, Sherry. Life On Screen, Identity in the Age of the Internet. Weidenfield & Nicholson. 1996. London.


[1] Abrar, Ana Nadhya. Teknologi Komunikasi: Perspektif Ilmu Komunikasi. Lesfi 2003. Yogyakarta. Hal. 3.

[2] Ibid.

[7] Habermas, Juergen, The Public Sphere, Oxford, Blackwell Publishers, 1997, hal. 105

[9] A blog (a contraction of the term “Web log“) is a Web site, usually maintained by an individual with regular entries of commentary, descriptions of events, or other material such as graphics or video. Entries are commonly displayed in reverse-chronological order. “Blog” can also be used as a verb, meaning to maintain or add content to a blog.

[13] Dahulu dinamakan Fight Club, mengalami perubahan nama setelah maraknya UU ITE yang disahkan pemerintah.

[14] Kaskusers adalah sebutan bagi anggota forum Kaskus.

[15] Terkait juga kasus film “Fitna” karya seorang warga Negara Belanda yang disinyalir menjelekkan agama Islam dan disebarkan melalui uputube.com namun di share juga melalui kaskus.

[19] Bessette, Joseph. Deliberative Democracy: The Majority Principle in Republican Government, in How Democractic is the Constitution? AEI Press. 1980. Washington, D.C. hal. 102

[20] Cohen, J. Deliberative Democracy and Democratic Legitimacy, from Hamlin, A. and Pettit, P. (eds), The Good Polity. 1989. Oxford: Blackwell. Hal. 17–34

~ by ardianindro on 04/01/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: